Tampilkan postingan dengan label Mudik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mudik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 September 2011

CIHUY…MAEN JUKUNG



“Memang kalo buah itu jatuh pasti tidak jauh dari pohonnya” Perumpamaan ini cocok dengan diriku saat ini. Anakku yang nomor duwa, pada saat ini berumur 2 tahun, tidak jauh dengan apa yang dulu aku lakukan disaat kecil. Maenanya juga ngga jauh beda, suka maen diair, suka jalan, suka maen perahu (jukung).

Ini terbukti sewaktu kami mudik lebaran, dimana jukung-jukung banyak sekali di kampungku karena ini merupakan salah satu alat trasportasi yang digunakan oleh penduduk setempat. Kami tidak perlu bayar kalau pakai jukung, tinggal teriak aja dari tepi sungai untuk pinjam jukung, sudah dibolehkan. Karena satu kampong kami adalah saudara semua, paling jauh kami sepupu tiga kali, selebihnya adalah adik beradik.

JUKUNG merupakan alat transfortasi tradisional orang kalimanatan. Sedangkan tumatan Wikipidia, Jukung[1] atawa Gubang[2] adalah parahu kayu nang halus khas Indonesia. Dalam bahasa Banjar, jukung biasanya ada jua ukurannya ganal. Jukung Banjar banyak talihat di batang banyu di Kalimantan Salatan

Pada lebaran kali ini, memang sudah kami rencanakan untuk bulik kampong, sekalian mengenalkan anak2 dengan saudara-saudara jauhnya juga mendekatkan mereka terhadap alam nenk moyangnya. Dan ternyata yang paling senang adalah anakku nang nomor duwa, semua hal mau dicoba dan salah satunya naik Jukung.

Anakku yang keduwa ini, paling suka naik jukung, lagaknya kaya orang dewasa saja, langsung ambil dayung dan gayanya berlagak seperti orang mendayung perahu. Aku sama istriku sampai sampai tidak habis pikir sikecil ngeliat siapa cara mendayung jukung. Karena sebelumnya anakku yang kedua ini baru pertamakali maen dikampung dan juga maen di sungai apalagi yang namanya ketemu dengan jukung.

Tapi memang kalo keduwa anakku ini suka sekali dengan acara si bolang yang sering disiarkan oleh salah satu tipi swasta di rumahku. Dimana anak2 ada yang mendayung perahu dan mancing, mungkin karena sering nonton tipi acara si bolang ini kali, anakku yang keduwa ini langsung mempraktekannya di kampungku. 

Gaya dan tingkahnya sama dengan orang dewasa yang sudah mahir mendayung, istriku nyeletuk  “ sama kaya bapanya”, maksudnya dalam urusan bermain2 dengan alam sudah menjadi darah dagingku (aku boleh banggalah…) karena asalanya aku adalah anak kampong yang dikiri kanannya adalah hutan rimba, sungai dan danau.

Ini bisa dibuktikan dengan nama kampungku “ telaga pulang” artinya dimana2 banyak dijumpai danau. Karena danau dikampungku disebut dengan nama “telaga”. Karena sangking banyaknya danau alias telaga, maka kalo kita sedang mencari ikan pasti kita akan secara tidak sengaja berkata” eh..telagaaaa pulanggg,…eh..telagaaaa pulanggg… ”, maksudnya ??!!.. kita ketemu danau terus, paling2 kita hanya ditutupi oleh barisan pohon kayu atau kumpai (rumput danau) setelah itu kita akan ke temu danau lagi. Mungkin karena sebutan itu asal muasal nama kampungku “TELAGA PULANG”.

Telaga Pulang, 31 Agustus 2011

Selasa, 13 September 2011

MUDIK & GOSONG


Musim kemarau di kampong menjadi berkah tersendiri kelihatannya bagi anak2. Kalo dulu kami masih kecil, musim kemarau adalah musim yang ditunggu-tunggu, karena banyak permainan yang bisa dimaenkan. Bisa maen layangan, maen bola, maen air (bakunyungan), maen ketapel (burung), cari ikan di danau yang kering, cari belut, cari udang, maen perang2ngan, maen karet, maen gepok biji karet, maen sembunyi2an, maen perahu dan banyak lagi…

Kalo malam hari cari ikan, duduk2 di pasir tengah sungai (gosong) sambil bakar ikan dan cerita2. Dengan bawa sarung mengelilingi api unggun, pokoknya ramelah dan maunya sepanjang tahun itu kemarau aja. Kami dulu tidak takut kurang air, karena hutan di samping kampong masih lebat sehingga mata air tetap mengalir dengan derasnya. Sekarang setelah masuknya kebun sawit banyak mata air yang hilang, hutan yang dulu lebat dan rimbun sudah menjadi hamparan sawit yang kaya permadani. Dan menurut cerita dari orang-orang pinter bahwa kelapa sawit (Elaeis) bisa menyebabkan banjir dan kemarau. “Ini karena sifat kelapa sawit yang tidak menyerap air hujan diwaktu hujan dan menyerap air diwaktu musim kemarau”, ini menurut seorang Profesor dari Universitas Riau, yaitu Prof. Dr. Ir H. Adnan Kasry.

Ini mungkin sudah mulai terjadi di kampungku, dulu belum ada yang namanya perkebunan kelapa sawit, jangankan kebun melihat pohonnya saja masyarakat tidak tahu apalagi kegunaannya. Sekarang hamper 60 persen wilayah kampungku sudah ditanamami sawit, masyarakat berbondong2 menjual tanah dengan sangat murahnya untuk perkebunan dan sangat bangga bisa kerja di perkebunan sawit. Aku bilang sama isteriku “mungkin jaman sudah berubah, dulu kami sudah bangga kalo punya perahu karena sungai merupakan urat nadi trasportasi dan tempat kami mencari nafkah, tapi sekarang coba liat hamper tiap rumah orang udah punya kendaraan roda dua, dan coba lihat di sungai, perahu-perahu mereka sudah mulai bocor dan hancur tidak dirawat lagi, karena mereka menganggap sungai bukan tempat hidup lagi, padahal nenek monyak kami dahulu hidup disungai”, dan tidak pernah kami mendengar ada anak2 desa yang tenggelam disungai atau dibawa arus kalo sungai sedang banjir, karena kami menjaga sungai seperti kami menjaga rumah kami sendiri.

Sekarang, hamper satu minggu sekali kami dengar anak2 masuk parit dan got karena naik sepeda motor, ada yang patah tangan, kaki, dan lecet-lecet karena naik sepeda motor kebut-kebutan dan ada yang sampai meninggal dunia.

Dulu kalo pasir yang ada di tengah sungai di depan kampong kami itu besar sekali bentuknya kalo disaat musim kemarau, dan kadang2 bentuknya berubah2 karena pengaruh arus sungai. Dan kami bisa bercengkrama bersama keluarga di tengah sungai (gosong) sambil cerita2 dan bertemu dengan handai tauladan serta sanak keluarga sebelum malam tiba. Dan kami sering bermain2 menunggu orang tua kami yg baru datang dari ladang dan cari ikan di danau dan sungai. Tapi sekarang orang turun ke pantai (gosong) hanya karena ingin maen petasan dan kembang api saja, dan kalaupun ada anak2 yang bermain itu bukan karena mereka suka maen tapi karena listrik mati sebab tipi tidak bisa dilihat di rumah lagi.

Aku bersyukur anaku lebih senang maen di pasir gosong ini daripada melihat tipi dirumah, dan anakku yang besar bilang ini pantai, “ ayah kita kepantai yu untuk mandi”, awalnya aku tidak begitu mengerti tapi setelah aku pikir2 boleh juga nih, gosong kita sebut pantai. Jadi memang anaku senang sekali dan kalo bisa tiap waktu maennya di pantai ini. Dan kalo dibandingkan dengan pantainya di Bali sono, pantaiku dikampung ini lebih bersih dan tidak jorok, karena tidak ada sampah, cuman yang kurangnya mungkin tidak ada orang bule-nya saja, kalo bule jawanya banyak juga, he..he…he

Kalo istilah “gosong” sendiri aku tidak tahu dari mana asal muasal katanya, karena sejak kecil namanya ya adalah gosong, kalo pasir yang muncul di waktu kemarau di tengah sungai itu. Dan kami tidak pernah komplain dengan nama itu, karena tidak berimplikasi sara atau menghujat seseorang, jadi sampai sekarang belum ada yang menanyakan apa arti “gosong”, itu, dan bagi kami tidak penting apapun namanya, yang jelas anak2 bisa maen seperti kami dulu sewaktu kecil.

Telaga Pulang, 31 Agustus 2011

Lebaran di Kampong

Liburan Keluarga Ejhonski di Kampung-                                              Telaga Pulang, 31 Agustus 2011

Rabu, 07 September 2011

MUDIK VS MAUNJUN -02


Hari ke-2, agenda yg sudah aku susun dengan anakku yang pertama adalah maunjun. Kebetulan musim kemarau, sehingga danau yang berada di belakang kampungku airnya surut dan hanya tersisa beberapa tempat yang dalam airnya masih tersisa—diantaranya di belakang rumah kami dikampung.

Aku dari rumah sudah siapkan dua (2) pancing, pagi2 sekali aku sudah cari cacing di belakang rumah dekat pohon pisang, karena menurut teori para cacing sukanya ditempat yang lembab dan dekat2 pohon pisang. Entah apa yang menyebabkan teori ini benar, tapi yang jelas aku nurut aja mengikuti petunjuk itu dan hasilnya memang ada…aku tidak tahu apa kaitannya antara pohon pisang dengan cacing..

Sambil menunggu buka puasa kami udah coba pasang pancing dan cari posisi dimana kira2 tempat yang nyaman dan tidak begitu panas, maklum musim kemarau ini membuat cuaca di kampong sangat panas sekali. Pertama yang strike anakku, ikannya sejenis ikan emas atau nama kampungku itu ikan “tangadak”. Ikan ini termasuk jenis pemakan segala jenis dan biasanya berada di dasar sungai dan bergerombol.  Umpan cacing ternyata hanya menjadi santapan empuk ikan seluang sejenis ikan kecil-kecil kaya ikan sarden. Aku coba ganti umpan dengan pake ikan seluang, karena kelihatannya ikan gabus juga cukup banyak, ini terlihat jelas dengan banyaknya percikan-percikan air dan ikan2 kecil yang lari-lari.

Tidak sampai 10 menit, aku sudah strike yang pertama, dan yang coba makan umpanku adalah ikan gabus jenis “toman”. Ini yg ditunggu-tunggu, karena ikan gabus jenis toman ini tarikannya sangat kuat dan juga harus hati2. Sebab gigi2nya yang tajam biasanya sebagai senjata andalannya untuk memutuskan tali pancing. Hampir 3 menit aku coba menuntaskan perlawan ikan toman ini, akhirnya menyerah dan bisa terangkat, strike pertama sudah membuat andrenalinku meningkat…yang jelas aku dengan anakku puas..puas…puas….?!!

Ternyata sampai sore kami hanya dapat 2 ekor ikan ini saja, mungkin karena bulan puasa, sehingga iwak-iwak ini jua ikut puasa, mungkin ..!!!. Tapi acara mancing ikan di kampong kesampaian dan anakku sangat senang sekali, sebab ini pertama kalinya dia ikut mancing dan pegang sendiri dan strike sendiri.

Mudik Vs Maunjun, merupakan liburan keluarga ku yang mengasikan, dan tahun depan kami akan balik lagi dan mancing merupakan acara tetap kami di kampong.


Telaga Pulang, 29 Agustus 2011









Selasa, 06 September 2011

MUDIK VS MAUNJUN -01


Lebaran kali ini terasa sangat berbeda sekali, pertama, kami sekeluarga bisa bulik kampong dengan naik mobil sendiri (walaupun nyewa), kedua, ngumpul sama keluarga besar (ya iyalah..???), ketiga, musim kemarau, sehingga kami bisa menikmati liburan sekaligus lebaran seperti terasa di bali sono yang ada pantainya, keempat, aku udah nambah anak juga yang ke2, kelima, bisa mancing di danau belakang rumah, keenam, udah bisa nyopir mobil 16 jam (nekat..!!).

Pokoknya top markotoplah tahun ini. Mudik ke kampong terasa kaya liburan akhir tahun dengan keluarga, menikmati perjalanan dan makan duren lagi. Habis memang pada musim duren, sepanjang jalan juga banyak yang jualan buah “duren, cempedak, semangka, metimun suri, nenas, jeruk, buah kelapa, klengkeng, apel, dst..dst…”

Kami berangkat jam 05.00 wita dari rumah setelah makan sahur, dan sampai di kampong jam 20.21 wib. Lebih dari 12 jam perjalanan, karena naik mobil sendiri makanya bisa santai dan anak2 juga bisa lebih leluasa bermain. Namanya mudik alias bulik kampong pasti banyak nang dibawa barang2 selain oleh2 juga pasti peralatan tidur. Jadi kaya orang mau pindahan aja, ada bok pakaian, guling 2 buah, bantal 2 buah, boneka, termos air panas, kotak susu, tisu, pancing, kue kering, beras, minuman, pokoknya apa yg bisa dimasukin dalam mobil, bawa..!?.

Sampai di kampong malam, juga udah ditunggu2 oleh keluarga, sehingga suasananya kaya udah pada lebaran, peluk cium udah kaya orang baru datang dari arab aja. Sampai2 anakku kecil kaget dan nangis, bukan karena senang tapi karena takut di kerubutin banyak orang, biasanya maen cuman ama abangnya dan tetangga beberapa biji, di kampong sanak saudara pada numplak datang. Yang dulu masih ingusan sekarang udah pada remaja, dan ada juga yang udah punya anak. Pokoknya berharu birulah…

Setelah aku hitung2 ternyata keponakanku sudah 12 orang dan cucu ibuku udah 14 orang, edan..!!. gimana tidak poll rumah kami yang dulu, kami rasa sudah besar, kaya lagu yang dulu popular tahun 80’an “gang kelinci”. Suara tawa, tangisan dan celoteh kaya dipasar buah aja. Tapi itulah inti dari mudik, bertemu sanak keluarga, handai tauldan, dan keluarga jauh.

Saat tidur,  aku dengan istriku cerita, untung kami masih punya kampong, bagaimana dengan teman2, yang tidak punya kampong? Kesian mereka tidak merasakan bagaimana rasanya “mudik” dan lebaran di kampong. Tidak terasa mata kami sudah mulai tertutup karena cape dan lelah, 14 jam perjalanan menguras tenaga dan staminaku. Met lebaran-minal aidin wal faizin –mohon maaf lahir & bathin 1432 H.

Telaga Pulang, 28 Agustus 2011

Minggu, 26 September 2010

selamat hari raya 1431 H

Keluarga Ejhonski MENGUCAPKAN SELMATA HARI RAYA IDUL FITRI 1431 H.

Mohon Maaf Lahir & Bathin...,

-----kami sekeluarga mohon maaf, kalo ada kata2, yang di sengaja maupun tidak di sengaja yang menyinggung, membuat tidak nyaman, dan terasa tidak enak, kami sekeluarga mohon maaf yg sebesar2nya.----begitu juga kami sebaliknya. -----Kami tahu bahwa kami bukalah manusia sempurna, masih banyak kekurangan, ketidak pekaan kami dan ketidak sanggupan kami menahan kata2, maupun pandangan mata--sekali lagi kami sekeluarga mohon maaf...


salam hangat keluarga ejhonski